PALEMBANG – Suasana antusias mewarnai kuliah umum Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Universitas Sriwijaya, Rabu (23/9/2026). Menghadirkan akademisi pendidikan sains asal Amerika Serikat, Prof. Dr. Kathy Cabe Trundle, kegiatan ini mengajak mahasiswa memahami bagaimana seni dapat menjadi bagian penting dalam pembelajaran sains di sekolah dasar.

Kuliah umum bertajuk “Creative Minds, Innovative Future: Integrating Arts into STEAM Education for Elementary Learning” tersebut berlangsung pukul 08.00–12.00 WIB. Kegiatan dipandu oleh dosen PGSD FKIP Universitas Sriwijaya, Ilham Arya Susanto, M.Pd., sebagai moderator, dengan Chelsea Alivia sebagai notulis.

Kehadiran Prof. Kathy menjadi salah satu daya tarik kegiatan ini. Ia bukan sosok yang baru pertama kali hadir dalam lingkungan akademik Universitas Sriwijaya. Sebelumnya, ia tercatat menjadi narasumber dalam kegiatan bertema Development of Inquiry-Based Learning in STEM Learning yang diselenggarakan FKIP Unsri pada 19 September 2024. Ia juga terlibat dalam kegiatan akademik mengenai pendidikan dan perubahan iklim di Unsri pada 2023.

Kunjungan kembali ini memberikan kesempatan bagi mahasiswa PGSD untuk berdialog dengan akademisi internasional mengenai perkembangan pendekatan pembelajaran sains dan penerapannya dalam pendidikan dasar. Diskusi berlangsung interaktif, dengan beragam pertanyaan mahasiswa yang mencerminkan ketertarikan terhadap tantangan nyata pembelajaran di sekolah, mulai dari keterbatasan fasilitas hingga kebutuhan belajar siswa yang beragam.

Prof. Kathy Cabe Trundle merupakan akademisi di bidang pendidikan sains yang berafiliasi dengan Utah State University, Amerika Serikat. Ia memiliki pengalaman mengajar di sekolah negeri sebelum melanjutkan karier akademik di perguruan tinggi. Bidang keahliannya mencakup pembelajaran sains anak usia dini dan sekolah dasar, termasuk pengembangan pembelajaran berbasis inkuiri serta integrasi seni dan teknologi dalam pendidikan STEM.

Dalam pemaparannya, Prof. Kathy menggarisbawahi bahwa seni dapat digunakan lebih dari sekadar aktivitas pendamping dalam pembelajaran. Seni dapat menjadi sarana bagi anak untuk memahami konsep, mengembangkan kreativitas, dan menunjukkan pengetahuan yang diperoleh melalui berbagai bentuk ekspresi.

Seni dan Sains dalam Satu Pengalaman Belajar

Integrasi seni dalam STEAM menjadi pokok pembahasan kuliah umum tersebut. STEAM merupakan pendekatan pembelajaran yang menghubungkan sains (science), teknologi (technology), rekayasa (engineering), seni (arts), dan matematika (mathematics).

Menurut materi yang disampaikan, integrasi seni perlu dirancang secara terarah. Peserta didik harus memiliki kesempatan untuk menunjukkan pemahaman melalui karya seni, terlibat dalam proses kreatif, menghubungkan seni dengan bidang ilmu lainnya, serta mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan.

Dengan pendekatan ini, pembelajaran sains tidak hanya berlangsung melalui penjelasan guru atau membaca buku teks. Siswa dapat menggambar diagram untuk menjelaskan fenomena alam, membuat model untuk merepresentasikan suatu sistem, menggunakan gerak atau drama untuk menggambarkan proses tertentu, maupun menciptakan karya berdasarkan hasil pengamatan.

Aktivitas tersebut memberi ruang bagi siswa untuk mengolah informasi sekaligus menyampaikan pemahaman dengan cara yang sesuai dengan kemampuan mereka. Seni menjadi penghubung antara konsep akademik dan pengalaman konkret yang dapat diamati, dieksplorasi, serta direfleksikan.

Integrasi yang dirancang dengan baik juga dapat mendukung peningkatan pemahaman kosakata akademik, keterlibatan siswa, perkembangan sosial-emosional, dan kolaborasi guru dalam merancang strategi pembelajaran.

Model 3-H: Belajar dengan Rasa Ingin Tahu, Pengalaman, dan Pemikiran

Selain membahas integrasi seni, Prof. Kathy memperkenalkan model pembelajaran 3-H yang terdiri atas hearts-on, hands-on, dan heads-on. Model ini menggabungkan ketertarikan emosional, pengalaman langsung, dan proses berpikir dalam satu rangkaian pembelajaran.

Pada tahap hearts-on, guru membangun rasa ingin tahu siswa melalui permainan, eksplorasi awal, dan pertanyaan pemantik. Anak diberi kesempatan untuk mengemukakan gagasan, mengamati lingkungan, serta menunjukkan ketertarikan terhadap fenomena yang dipelajari.

Tahap hands-on kemudian mengarahkan siswa untuk melakukan eksplorasi secara lebih terstruktur. Melalui penyelidikan, pengamatan, dan pemecahan masalah, siswa memperoleh pengalaman langsung yang membantu mereka memahami materi. Dalam tahap ini, guru berperan memberikan arahan dan mendorong siswa mengembangkan pemikirannya.

Selanjutnya, tahap heads-on menekankan diskusi, analisis, penarikan kesimpulan, dan refleksi. Siswa tidak hanya melakukan kegiatan, tetapi juga diajak menjelaskan hasil pengamatan, menghubungkan pengalaman dengan konsep, serta meninjau kembali pemahamannya.

Proses pembelajaran tersebut diakhiri dengan kegiatan mencipta sebagai bentuk penerapan pengetahuan. Salah satu contoh yang dibahas adalah pembelajaran berbasis kebun (garden-based learning), yang dapat menghubungkan pengamatan pertumbuhan tanaman dengan sains, pengukuran matematika, dokumentasi visual, dan kegiatan kreatif.

Model 3-H juga memberi perhatian pada perkembangan sosial dan emosional anak, termasuk kesadaran diri, pengelolaan diri, keterampilan membangun hubungan, pengambilan keputusan, dan empati.

Diskusi Interaktif, dari Keterbatasan Kelas hingga Keberagaman Siswa

Antusiasme peserta tercermin melalui sesi tanya jawab yang membahas berbagai persoalan praktis dalam pembelajaran sekolah dasar. Salah satu pertanyaan menyoroti tantangan guru di Indonesia yang harus mengelola kelas dengan keterbatasan waktu dan sumber daya, sekaligus menerapkan ketiga unsur dalam model 3-H.

Menanggapi persoalan tersebut, Prof. Kathy menekankan pentingnya menciptakan lingkungan belajar yang aman dan positif. Guru juga perlu peka terhadap kebutuhan serta rasa ingin tahu siswa agar kegiatan yang dirancang tetap relevan dan bermakna.

Pertanyaan lainnya berkaitan dengan perbedaan kemampuan dan cara belajar peserta didik. Dalam konteks ini, guru didorong menyediakan aktivitas fleksibel yang memungkinkan siswa menunjukkan pemahaman melalui beragam bentuk seni, seperti menggambar, musik, gerak, dan drama.

Tingkat pendampingan perlu disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing siswa. Umpan balik pun sebaiknya berfokus pada perkembangan individu, bukan membandingkan kemampuan atau hasil karya antarsiswa.

Keberagaman budaya di ruang kelas turut menjadi perhatian. Prof. Kathy menjelaskan pentingnya menghargai latar belakang budaya peserta didik melalui penggunaan contoh yang beragam dan kesempatan untuk berbagi tradisi masing-masing. Dengan demikian, pembelajaran seni dapat menjadi ruang untuk mengembangkan kreativitas sekaligus membangun penghargaan terhadap perbedaan.

Sementara itu, dalam menjawab pertanyaan mengenai cara membantu siswa memahami konsep sains yang abstrak, ia menjelaskan bahwa guru dapat memanfaatkan gambar, model, permainan peran, dan eksperimen sederhana. Berbagai aktivitas tersebut dapat membantu siswa membangun representasi visual dan pengalaman konkret terhadap konsep yang sebelumnya sulit dipahami.

Diskusi juga menyinggung peluang lulusan pendidikan guru sekolah dasar Indonesia untuk mengajar di Amerika Serikat. Prof. Kathy menjelaskan bahwa persyaratan sertifikasi dan lisensi berbeda di setiap negara, sehingga calon guru perlu memenuhi ketentuan serta tahapan pengujian yang berlaku di negara tujuan.

 

Memperkuat Wawasan Calon Guru di Era Pembelajaran Interdisipliner

Bagi mahasiswa PGSD, kuliah umum ini memberikan gambaran bahwa inovasi pembelajaran tidak selalu bergantung pada teknologi canggih atau fasilitas yang kompleks. Guru dapat memanfaatkan lingkungan sekitar, aktivitas kreatif, dan pertanyaan yang tepat untuk membantu siswa memahami konsep secara lebih mendalam.

Namun, integrasi seni dalam STEAM tetap membutuhkan perencanaan yang matang. Guru harus memastikan bahwa kegiatan kreatif tidak sekadar menarik perhatian siswa, tetapi juga berhubungan langsung dengan materi dan tujuan pembelajaran.

Kegiatan ini sekaligus membuka ruang bagi calon guru untuk mempelajari perspektif pendidikan internasional dan mempertimbangkan penerapannya dalam konteks sekolah dasar Indonesia. Pemahaman mengenai pembelajaran lintas disiplin, pengembangan kreativitas, dan kebutuhan peserta didik menjadi bekal penting dalam merancang pengalaman belajar yang relevan.

Melalui kuliah umum ini, PGSD FKIP Universitas Sriwijaya memperkuat upaya pengembangan wawasan akademik mahasiswa mengenai pendekatan STEAM. Kehadiran kembali Prof. Kathy Cabe Trundle juga menjadi bagian dari kesinambungan interaksi akademik internasional yang membuka kesempatan bagi mahasiswa untuk mengenal gagasan, pengalaman, dan perkembangan penelitian dalam pendidikan sains.

Pertemuan tersebut menegaskan bahwa kreativitas dan pemahaman akademik tidak harus ditempatkan sebagai dua hal yang terpisah. Ketika dirancang secara terarah, seni dapat menjadi salah satu jalan bagi anak untuk mengeksplorasi pengetahuan, membangun pemahaman, dan menemukan cara baru dalam memaknai pembelajaran.

Kembali Hadir di PGSD FKIP UNSRI, Prof. Kathy Cabe Trundle Ajak Calon Guru Integrasikan Seni dalam Pembelajaran STEAM

Navigasi pos


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *