PALEMBANG – Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Universitas Sriwijaya menggelar kuliah umum bertema “Pendidikan Inklusi sebagai Wujud Keadilan Sosial dalam Pembelajaran di Sekolah Dasar” pada 3 September 2026. Kegiatan ini menyoroti pentingnya membangun sistem pembelajaran yang mampu mengakomodasi keberagaman kebutuhan peserta didik di sekolah dasar.

Dalam kuliah umum yang berlangsung pukul 08.00 hingga 12.00 WIB tersebut, Dr. Joko Yuwono, M.Pd., hadir sebagai narasumber dengan Najlatul Fathia, M.Pd., sebagai moderator. Pembahasan berfokus pada pendidikan inklusif sebagai bagian dari pemenuhan hak pendidikan bagi seluruh anak, termasuk anak berkebutuhan khusus dan penyandang disabilitas.

Pendidikan inklusif tidak sekadar menempatkan peserta didik dengan kebutuhan yang beragam dalam satu ruang kelas. Pendekatan ini menuntut sekolah dan guru untuk menyesuaikan proses pembelajaran agar setiap anak memiliki kesempatan yang setara untuk belajar, berpartisipasi, dan mengembangkan potensinya.

Dalam pemaparannya, Joko menjelaskan bahwa keberagaman merupakan kondisi yang wajar dalam lingkungan pendidikan. Perbedaan kemampuan, karakteristik, dan kebutuhan belajar seharusnya tidak menjadi alasan bagi sekolah untuk membatasi akses pendidikan. Sebaliknya, kondisi tersebut perlu menjadi pertimbangan dalam merancang pembelajaran yang lebih adaptif dan berpusat pada peserta didik.

Pembahasan juga mencakup beragam hambatan yang dapat dialami anak, mulai dari hambatan penglihatan dan pendengaran hingga hambatan intelektual, fisik, perilaku, serta kesulitan belajar. Pemahaman terhadap kondisi tersebut dinilai penting bagi calon guru agar mampu mengenali kebutuhan peserta didik dan menentukan pendekatan pembelajaran yang sesuai.

Salah satu isu yang mengemuka dalam diskusi adalah penerapan Universal Design for Learning (UDL), yakni pendekatan yang mendorong perancangan pembelajaran agar dapat diakses oleh peserta didik dengan kebutuhan dan kemampuan yang beragam. Dalam praktiknya, guru dapat memanfaatkan berbagai bentuk penyajian materi, seperti teks, gambar, audio, dan representasi visual, sekaligus memberikan alternatif bagi siswa untuk memahami materi dan menyelesaikan tugas.

Pendekatan tersebut menempatkan aksesibilitas sebagai bagian dari perencanaan pembelajaran sejak awal, bukan sekadar penyesuaian setelah hambatan muncul. Dengan demikian, media pembelajaran yang dirancang secara tepat diharapkan dapat membantu lebih banyak peserta didik mengikuti proses belajar secara bermakna.

Selain penggunaan media, diskusi turut membahas perlunya penyesuaian strategi mengajar dan capaian pembelajaran berdasarkan kebutuhan siswa. Guru dituntut mampu mempertimbangkan kondisi peserta didik tanpa mengabaikan tujuan pembelajaran yang hendak dicapai.

Dalam sesi tanggapan, Prof. Dr. Siti Dewi Maharani mengapresiasi penyelenggaraan kuliah umum tersebut. Ia menyoroti pentingnya meningkatkan kesadaran terhadap keberagaman, membangun sikap saling menghargai, serta menumbuhkan empati di lingkungan pendidikan.

Menurutnya, penguatan pemahaman pendidikan inklusif perlu menjadi bagian dari proses pembelajaran di lingkungan PGSD, termasuk melalui mata kuliah Pembelajaran Berdiferensiasi. Bekal tersebut diperlukan agar mahasiswa memiliki kesiapan menghadapi karakteristik dan kebutuhan siswa yang beragam ketika terjun ke sekolah.

Kuliah umum ini menegaskan bahwa tantangan pendidikan inklusif tidak berhenti pada penerimaan peserta didik di sekolah, tetapi juga mencakup upaya memastikan keterlibatan dan perkembangan mereka dalam pembelajaran. Kehadiran siswa di ruang kelas perlu disertai lingkungan yang mendukung partisipasi, penerimaan, dan pencapaian belajar.

Bagi calon guru sekolah dasar, pemahaman tersebut menjadi landasan untuk mengembangkan praktik pendidikan yang lebih adil dan responsif terhadap kebutuhan anak. Melalui penguatan perspektif pendidikan inklusif, PGSD FKIP Universitas Sriwijaya mendorong calon pendidik untuk memandang keberagaman bukan sebagai hambatan, melainkan sebagai bagian mendasar dari penyelenggaraan pendidikan.

PGSD FKIP Universitas Sriwijaya Dorong Calon Guru Pahami Pendidikan Inklusif

Navigasi pos


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *